LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BATU KANDUNG KEMIH
DISUSUN OLEH :
PITRI ANDRIYANA KUSUMASTUTI
10110145 / SEMESTER VI
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
STIKes SATRIA BHAKTI NGANJUK
2013
BAB 1
Tinjauan Medis
A.
Definisi
Batu kandung kemih adalah kondisi terdapatnya
batu didalam kandung kemih. (Muttaqin, )
B.
Etiologi
1. Obstruksi kandung kemih
2. Pembesaran prostat
3. Stasis sisa urine yang tinggi
4. Infeksi Saluran Kemih
5. Penyakit Gout
C.
Patofisiologi
Kebanyakan kalkuli vesikalis terbentuk denovo
dalam kandung kemih, tetapi beberapa awalnya mungkin telah terbentuk di dalam
ginjal, kemudian menuju kandung kemih, dimana dengan adanya pengendapan
tambahan akan menyebabkan tumbuhnya batu kristal. Pada pria tua, batu kandung
kemih terdiri atas asam urat. Batu jenis ini merupakan batu yang paling mungkin
terbentuk di kandung kemih. Bau yang terdiri atas kalsium oksalat biasanya
awalnyanterbentuk di ginjal.
Jenis umum sebagian besar batu vesikalis pada
orang dewasa terdiri atas asam urat (>50%). Pada kondisi yang lebih jarang,
batu kandung kemih terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat, amonium urat,
sistein, dan magnesium amonium fosfat (bila dengan infeksi).
Batu pada anak terutama atas asam urat
amonium, kalsium oksalat, atau capuran tercemar asam urat dan oksalat kalsium amonium dengan fosfat kalsium.
Pemberian air tajin (air mendidih atau pada saat menanak beras) sebagai
pengganti ASI memiliki fosfor rendah, akibatnya menyebabkan ekskresi amonia
tinggi. Anak-anak juga biasanya memiliki asupan tinggi sayuran kaya oksalat
(meningkatkan kristaluria oksalat) dan protein hewani (sitrat diet rendah).
Dengan terbentuknya batu di kandung kemih,
masalah akan tergantung pada besarnya batu dalam menyumbat muara uretra.
Berbagai manifestasi akan muncul sesuai derajat penyumbatan tersebut.
Ketika batu menghambat sa;uran urine,
terjadilah obstruksi dan meningkatkan tekanan hidrostatik. Bila nyeri
mendadak secara akut dan disertai nyer
tekan suprapubik, serta muncul mual muntah, maka klien sedang mengalami episode
kolik renal. Diare, demam, dan perasaan tidak nyaman pada abdominal dapat
terjadi. Gejala gastroitestinal ini terjad akibat reflek dan proksimitas
anatomik ginjal ke lambung, pankreas, dan usus besar. Batu yang terjebak di
kandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar biasa, akut, dan kolik yang
menyebar ke kepala, abdomen, dan geital. Klien sering merasan ingin BAK, namun
hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya mengandung darah aksi abrai batu,
gejala ini disebabkan kolik ureter. Umumnya klien akan mengeluarkan batu yang
berdiameter 0,5 sampai dengan 1cm secara spontan. Batu yang berdiameter lebih
dari 1cm biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat dikeluarkan
secara spontan dan saluran urine membaik atau lancar.
Berdasarkan tugas kimiawinya batu urin ada
beberapa jenis yaitu : batu kalsium
okalat, batu kalsium fosfat, batu asam urat, batu struvit ( magnesium ammonium
fosfat ) dan batu sistin.
1.
Batu
Kalsium Oksalat
Merupakan
jenis batu paling sering dijumpai : yaitu lebih kurang 75 – 85% dari seluruh
batu urin. Batu ini lebih umum pada wanita, dan rata-rata terjadi pada usia
decade ketiga. Kadang – kadang batu ini dijumpai dalam bentuk murni atau juga
bisa dala bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium fosfat biasanya hidroxy
apatite.Batu kalsium ini terdiri dari 2 tipe yaitu monohidrat dan dihidrat.Batu
kalsium dihidrat biasanya pecah dengan mudah dengan lithotripsy ( suatu teknik
non invasive dengan menggunakan gelombang kejut yang difokuskan pada batu untuk
menghancurkan batu menjadi fragmen –fragmen) . sedangkan batu monohidrat adalah
salah satu diantara jenis batu yang sukar dijadikan fragmen-fragmen.
2.
Batu
Struvit :
Sekitar
10-15% dari total, terdiri dari magnesium ammonium fosfat ( batu struvit) dan
kalsium fosfat. Batu ini terjadi sekunder terhadap infeksi saluran kemih yang
disebabkan bakteri pemecah urea. batu dapat tumbuh menjadi lebih
besar membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal.
Batu dapat tumbuh menjadi lebih besar membentuk batu staghorn dan mengisi
seluruh pelvis dan kaliks ginjal. Dikatakan bahwa batu staghorn dan
struit mungkin berhubungan erat dengan destruksi yang cepat dari ginjal hal ini
mungkin karena proteus merupakan bakteri urease yang poten.
3.
Batu
asam urat :
Lebih
kurang 5-10% dari seluruh batu saluran kemih dan batu ini tidak mengandung
kalsium dalam bentuk murni sehingga tak terlihat dengan sinar X ( radiolusen )
tapi mungkin bisa dilihat dengan USG atau dengan Intra Venous Pyelografy (IPV).
Batu asam urat ini biasanya berukuran kecil, tapi kadang-kadang dapat cukup
besar untuk membentuk batu staghorn, dan biasanya relatif lebih
mudah keluar karena rapuh dan sukar larut dalam urin yang asam. Batu
asam urat ini terjadi terutama pada wanita. Separoh dari penderita batu asam
urat menderita gout ; dan batu ini biasanya bersifat family apakah dengan atau
tanpa gout. Dalam urin Kristal asam urat berwarna merah orange. Asam urat
anhirat menghasilkan Kristal-kristal kecil yang terlihat amorphous dengan
mikroskop cahaya. Dan Kristal ini tak bisa dibedakan dengan Kristal apatit.
Batu jenis dihidrat cenderung membentuk Kristal seperti tetesan air mata.
4.
Batu
Sistin : (1-2%)
Lebih
kurang 1-2% dari seluruh BSDK, Batu ini jarang dijumpai (tidak umum), berwarna
kuning jeruk dan berkilau. Sedang Kristal sistin diurin tampak seperti plat
segi enam sangat sukar larut dalam air. Bersifat radioopak karena
mengandung sulfur.
5.
Batu
Xantin
Amat
jarang, bersifat herediter karena defisiensi xaintin oksidase.Namun bisa
bersifat sekunder karena pemberian alupurinol yang berlebihan.
D.
Manifestasi Klinis
Umumnya batu berasal dari ginjal dan bergerak
kearah distal, menciptakan derajat obstruksi yang bervariasi seperti yang
terjadi pada daerah yang sempit seperti ureteropelvic junction dan
ureterovesical junction. Lokasi dan kualitas dari nyeri berhubungan dengan
posisi dari batu dalam saluran kemih. Keluhan khas dari batu urin bagian atas
ialah adanya kolik ginjal disamping rasa tidak enak dipinggang ataupun adanya
gejala -gejala infeksi saluran kemih bagian baik atas maupun bawah.
Ada 2 madam tipe nyeri yang berasal dari
ginjal, yaitu nyeri kolik ginjal dan nyeri ginjal bukan kolik. Kolik ginjal
biasanya disebabkan oleh peregangan urinary collecting system (sistem
pelviokalises), sedangkan nyeri ginjal bukan kolik disebabkan distensi dari
kapsul ginjal. Gejala nyeri ini mungkin timbul bersamaan sehingga sukar
membedakan secara klinik. Namun yang jelas obstruksi saluran kemih adalah
mekanisme utama yang bertanggung jawab untuk terjadinya kolik ginjal. Nyeri
pada kolik ginjal ini bersifat konstan, sedang pada kolik bilier dan intestinal
datangnya bergelombang. Nyeri kolik ginjal akut dan berat dapat membangun
penderita yang sedang tidur. Mekanisme local seperti inflamasi, edema,
hiperperistaltis, iritasi mukosa berperan dalam menimbulkan nyeri pada pasien
batu ginjal.
Selain nyeri, gejala lain yang mungkin timbul sebagai berikut :
1.
Hematuri
: Pasien sering mengeluh hematuria atau urin berwarna seperti teh Namun lebih
kurang 10-15% penderita batu urin tidak menderita hematuria. Urinalisa yang komplet
membantu diagnosis batu urin dengan adanya hematuria, kristaluria, dan kelainan
Ph urin.
2.
Infeksi
: Biasanya dengan gejala-gejala menggigil, demam, nyeri pinggang, nausea serta
muntah dan disuria. Secara umum infeksi pada batu struvit (batu infeksi) berhubungan
dengan infeksi dari Proteus sp, Pseudomonas sp, Klebsiella sp. dan jarang
dengan E.coli. Batu kalsium fosfat adalah variasi kedua dari batu infeksi.
3.
Demam :
Hubungan batu urin dengan demam adalah merupakan kedaruratan medik relatif.
Tanda-tanda klinik sepsis adalah bervariasi termasuk demam, takikardi,
hipotensi dan vaodilatasi perifer. Demam akibat obstruksi saluran kemih
memerlukan dekompresi segera.
4.
Mual
dan muntah : Obstruksi saluran kemih bagian atas sering menimbulkan mual dan
muntah.
E.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Laboratorium
Urin analisis, pemeriksaan urin analisis pada pasien batu
kandung kemih dilakukan secara mikroskopis dan makroskopis. Pemeriksaan secara
mikroskopis dilakukan untuk menilai jenis batu dengan menilai pH, konsistensi
dan komposisi batu. Pemeriksaan makroskopis dilakukan untuk menilai warna dan
kejernihan urin. Pada pasien dewasa dengan jenis batu asam urat, secara
mikroskopis lazim didapatkan pH asam, sedangkan secara makroskopis didapatkan
adanya hematuria dan piuria.
Hitung jumlah sel darah lengkap : pada pasien obstruksi
dan infeksi akakn didapatkan sel darah putih (WBC) meningkat.
2.
USG
Ultrasonografi,
menampilkan objek hyperechoic klasik dengan membayangi posterior, efektif dalam
mengidentifikasi baik radiolusen dan batu radio-opak.
3.
Foto
Polos Abdomen
Pemeriksaan
standar untuk menilai adanya batu radio-opak.
4.
Intravena
Pyelography (IVP)
Jika
kecurugaan klinis tetap tinggi dan foto polos abdomen tidak mengungkapkan adaya
batu, langkah berikutnya adalah cystography atau IVP.
5.
CT-Scan
CT-Scan
biasanya diperoleh karena alasan lain (misalnya: sakit perut, masa panggul,
abses dicurigai), tetapi mungkin menunjukkan batu kandung kemih ketika
dilakukan tanpa kontras IVP.
6.
Sistoskopi
Sistoskopi
digunakan untuk mengonfirmasi keberadaan batu kandung kemih dan rencana
pengobatan. Prosedur ini memungkinkan untuk visualisasi batu, ukuran, dan
posisi. Selain itu, pemerksaan uretra, prostat, dinding kandung kemih dan
lubang saluran kandung kemih memumngkinkan untuk dilakukan identifikasi
striktur, obstruksi prostat, divertikula kandung kemih dan tumor kandung kemih.
F.
Penatalaksanaan Medis
Pengobatan medis yang efektif berpotensi
hanya untuk penghancuran batu asam urat. Kalium sistrat (Polycitra K, Urocit K)
60 mEq/d adalah pengobatan pilihan.
Intervensi bedah, saat ini terdapat tiga
pedekatan bedah berbeda yang dilakukan untuk mengatasi batu kandung kemih,
tidak seperti penatalaksanaan dengan batu uretra atau batu ginjang intervensi
ESWL pada batu kandung kemih menunjukkan dampak terapi yang rendah, tetapi pada
beberapa studi menunjukkan bahwa intervensi ESWL masih dipertimbangkan untuk
pengobatan batu kandung kemih.
1.
Cystolitholapaxy
Transurethal
Setelah
alat sitoskopi masuk dan memvisualkan batu, sumber energi yang digunakan untuk
menghancurkan batu menjadi serpihan fragmen yang kemudian secara mudah
dikeluarkan dengan alat sitosopi. Sumber energi mekanik , ultrasonik,
elektrohidrolik (spark induced pressure wave), lithotrite manual, dan leser.
Dengan menggunakan jenis panjang gelombang cahaya tertentu (misalnya holmium),
maka dapat menghancurkan batu.
2.
Cystolithopalaxy
Suprapubik Perkutan
Rute
perkutan memungkinkan penggunaan lebih pendek dan diameter yang lebih besar
peralatan endoskopi (biasanya dengan lithotriper ultrasonik), yang memungkinkan
fragmentasi cepat dan evakuasi batu.
Sering
kali, pendekatan transurethral dan perkutan digabungkan untuk membantu
stabilitasi batu dan untuk memfasilitasi irigasi puing-puing batu. Para penulis
mendukung pendekatan dikombinasikan dengan penggunaanlithotripter ultrasonik
atau lithoclast pneumatik. Holmium laser juga efektif, tetapi umumnya lebih
lambat, bahkan dengan serat-mikron.
3.
Cystotomy
Suprapubik Terbuka
Cystotomy
suprapubik terbuka, digunakan untuk menghilangkan batu. Kelebihan
cystolithotomy suprapubik termasuk kecepatan, penghapusan beberapa batu pada
satu waktu penghapusan kalkuli terhadap mukosa kandung kemih dan kemampuan
untuk menghilangkan batu besar yang terlalu keras atau padat. Untuk
menghilangkan fragmen secepatnya dapat digunakan teknik transrethral atau
perkutan. Kelemahan utama termasuk nyeri pascaoperasi, tinggal dirumah sakit
lebih lama, dan waktu lebih lama untuk kateterisasi kandung kemih.
BAB 2
Tinjauan Keperawatan
A.
Pengkajian
1.
Identitas
a.
Perbandingan
laki-laki dan wanita adalah 2 sampai 3 :1
b.
Usia :
Puncak insiden dari batu urin dengan gejala adalah pada decade ketiga dan
keempat.
c.
Penelitian
demografis menyebutkan pria kulit putih beresiko lebih tinggi daripada kulit
hitam.
d.
Pekerjaan : Pekerja kasar dan petani lebih banyak bergerak dibandingkan dengan
pegawai kantor, penduduk kota yang lebih banya duduk waktu bekerja, ternyata
lebih sedikit menderita batu urin.
e.
Keadaan sosial ekonomi : Di negara maju/industri atau golongan
social ekonomi yang tinggi lebih banyak makan protein, terutama protein hewani,
juga karbohidrat dan gula, ini lebih sering menderita batu urin bagian atas.
Sedangkan pada negara berkembang atau orang yang sering makan Vegetarik dan
kurang protein hewani sering menderita batu urin bagian bawah.
f.
Tempat
tinggal : Orang yang tinggal didaerah panas punya resiko tinggi menderita batu
urin. Pada daerah didaerah tropik, dikamar mesin akan menyebabkan keringat
banyak dan menguap cairan tubuh, mengurangi produksi urin sehingga memudahkan
pembentukan batu urin.
2.
Riwayat
Penyakit
a.
Keluhan
Utama
Frekuensi berkemih yang meningkat, urine yang masih menetes
setelah berkemih, merasa tidak puas setelah berkemih, penurunan kekuatan, dan
ukuran pancaran urine, mengedan saat berkemih, tidak dapat berkemih sama
sekali, nyeri saat berkemih, hematuria, nyeri pinggang.
b.
Riwayat
Penyakit Sekarang
Pasien
biasanya mengeluh nyeri saat berkemih, tidak dapat berkemih sampai gangguan
gastrointestinal seperti mual, muntah yang kemudian pasien dirujuk ke Rumah
Sakit.
c.
Riwayat
Penyakit Dahulu
Perlu
dikaji apakah sebelumnya pasien mederita penyakit gout, ataupun pernah
mengalami tindakan operasi panggul sebelumnya, tertama bila ada bahan sintetis
yang ditanamkan.
d.
Riwayat
Penyakit Keluarga
Anggota
keluarga penderita batu urin lebih banyak kemungkinan menderita penyakit yang
sama dibanding dengan keluarga bukan penderita batu urin. Lebih kurang 30%
sampai 40% penderita batu kalsiun oksalat mempunyai riwayat famili yang positif
menderita batu. Apakah ini terlibat faktor keturunan atau pengaruh lingkungan
yang sama belum diketahui.
3. Pemeriksaan
Fisik
a.
Keadaan
Umum
Pasien
biasanya terlihat lemah, kesadaran Composmentis, suhu meningkat, dan nadi juga
meningkat.
b.
B1
(Breathing / Pernapasan)
Tidak
ada gangguan dalam sistem pernapasan.
c.
B2
(Blood / Kardiovaskuler)
Frekuensi
denyut nadi meningkat, akral hangat, CRT < 3 detik, perfusi perifer baik.
d.
B3
(Brain / Persarafan)
Terdapat
keluhan nyeri saat Bak ataupun nyeri suprapubik.
e.
B4
(Bladder / Perkemihan)
Frekuensi berkemih yang meningkat, urine yang masih menetes
setelah berkemih, merasa tidak puas setelah berkemih, sering berkemih pada
malam hari, penurunan kekuatan, dan ukuran pancaran urine, mengedan saat
berkemih, tidak dapat berkemih sama sekali, nyeri saat berkemih, hematuria.
f.
B5
(Bowel / Pencernaan)
Keluhan gastrointestinal seperti nafsu makan menurun,
mual,muntah dan konstipasi.
g.
B6
(Bone / Muskuloskeletal)
Pasien
mengalami kelemahan fisik.
B.
Diagnosa Keperawatan
1.
Nyeri
akut b.d peningkatan frekuensi kontraksi uretral, trauma jaringan.
2.
Gangguan
eliminasi urin b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, obstrukai mekanik dan
peradangan.
3.
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah, anorexia.
4.
Resiko
tinggi infeksi b.d port de entree luka pascabedah.
C.
Rencana Tindakan Kepewatan
|
No.
|
Diagnosa
|
Tujuan
|
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Nyeri akut b.d peningkatan frekuensi kontraksi uretral,
trauma jaringan
|
Dalam waktu 3 jam setelah diberikan
tindakan keperawatan pasien mengatakan nyerinya berkurang.
|
a.
Secara
subyektif pernyataan nyeri berkurang atau teradaptasi
b.
Skala nyeri
2
c.
TTV dalam
batas normal dan pasien terlihat tenang.
|
1. Observasi karakteristik nyeri mulai dari
penyebab, lokasi, skala dan waktu. (PQRST)
2. Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak
ada kontraidikasi
3. Berikan kompres hangat pada area nyeri.
4. Ajarkan tehnik
relaksasi distraksi seperti membaca koran.buku, aktivitas sesuai hobi,
menonton tv, mendengarkan radio, dll
5. Lakukan kolaborasi
pemberian analgesik.
|
1. Membantu membedakan
penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan/ perbaikan penyakit,
terjadinya komplikasi dan keefiktifan intervensi
2. membantu pasien
berkemih dan mengeluarkan batu.
3. Efek dilatasi
dinding kandung kemih memberikan respon spasme otot menurun sehingga nyeri
berkurang.
4. Pengalihan
perhatian akan mengurangi nyeri yang dirasakan.
5.
Analgesik akan memblok lintasan nyeri sehingga nyeri berkurang.
|
|
2.
|
Gangguan
eliminasi urine b.d stimulasi
kandung kemih oleh batu, obstrukai mekanik dan peradangan.
|
Setelah diakukan tindakan keperawatan 3 x
24 jam pola eliminasi urine pasien normal.
|
TTV dalam batas normal, tidak ada keluhan
dalam melakukan BAK, produksi urine 500cc/jam, tidak ada distensi kandung
kemih, tidak terjadi hematuria, urine tidak keruh.
|
1. Observasi pola berkemih pasien dan produksi
urine setiap jam
2. Observasi input dan output cairan pasien.
3. Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung
kemih.
4. Anjurkan untuk BAK setiap 3-4jam.
5. Anjurkan untuk minum minimal 2000cc/hari.
6. Kolaborasi dengan tim medis dengan
pemberian antimikroba.
|
1. Untuk mengetahui
fungsi ginjal.
2. Untuk mengetahui
kerja fungsi saluran perkemihan pasien.
3. Menilai adanya
stasis urine di kandung kemih.
4. Membantu
mempertahankan kerja ginjal.
5. Pengedapan urine di
kandung kemih akan meyebabkan semakin besarnya batu.
6. Antimikroba akan
memperlambat terbentuknya batu kandung kemih karena mikroba.
|
|
3.
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan b.d anoreksia , muntah dan gangguan pencernaan.
|
Dalam waktu 3 x 24 jam setelah dilakukan
tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan kebutuhan nutrisi yang
adekuat.
|
Menunjukkan peningkatan nafsu makan dan
menunjukkan peningkatan BB, pasien tidak merasa mual muntah, pasien tidak
terlihat lemas dan pucat, mengalami peningkatan BB.
Lab :
Protein : (N : 6,1-8,2 gr), Albumin (N :
3,8-5,0 gr), gula darah PP (100-120 mg/dl) dalam batas normal.
|
1.
Observasi
status nutrien pasien, turgor kulit, BB, riwayat mual/muntah dan intregitas
mukosa.
2.
Pertahankan
kebersihan mulut.
3.
Berikan
makanan selagi hangat.
4.
Kolaborasi
dengan ahli gizi dengan memberikan diet makanan rendah kalsium.
|
1.
Memvalidasi
dan menetapkan derajat masalah untuk menetapkan pilihan intervensi yang
tepat.
2.
Akumulasi
partikel makanan di mulut dapat menambah bau dan rasa tak sedap yang akan
menurunkan nafsu makan.
3.
Makanan
hangat akan meningkatkan nafsu makan pasien dan dapat meningkatkan intake
nutrisi yang adekuat.
4.
Diet rendah
kalsium akan mengurangi terbentuknya batu kandung kemih.
|
|
4.
|
Resiko tinggi infeksi b.d port de entree
luka pascabedah
|
Dalam waktu 5 x 24 jam tidak terjadi
infeksi, terjadi perbaikan pada integritas jaringan lunak.
|
TTV dalam batas normal, tidak ada
tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, rubor, tumor, dan fungsio laesa), luka
psaca operasi menunjukkan integritas yang baik.
|
1.
Observasi
TTV pasien
2.
Observasi
luka pasca operasi pasien.
3.
Lakukan
tindakan rawat luka setiap hari.
4.
Berikan
nutrisi tinggi protein.
5.
Kolaborasi
dengan tim medis untuk pemberian antibiotik.
|
1.
Mengetahui keadaan
pasien adanya tanda-tanda infeksi seperti takikardi dan peningkatan suhu
tubuh.
2.
Memantau
kondisi luka agar tidak terjadi infeksi.
3.
Perawatan
luka sebaiknya tidak setiap hari untuk menurunkan kontak tindakan dengan luka
yang dalam kondisi sterils ehingga mencegah kontaminasi kuman ke luka bedah
4.
Nutrisi
yang tercukupi dan tinggi protein akan mempercepat penyembuhan luka.
5.
Antibiotik
meminimalkan luka dari mikroorganisme sehingga tidak terjadi infeksi.
|
D.
Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah mendapat
intervensi keperawatan adalah sebagai berikut :
1.
Penurunan
skala nyeri
2.
Pola
BAK optimal
3.
Tidak
terjadi infeksi pada luka pascabedah
4.
Asupan
nutrisi terpenuhi
Daftar Pustaka
Carpenito,
Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan. Edisi 10. Jakarta: EGC.
Dr. Bahdarsyam. 2011. Spektrum
Bakteriologik Pada Berbagai Jenis Batu Saluran Kemih Bagian Atas. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30750/4/Chapter%20II.pdf. Diunggah pada 14 Maret 2012.
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Salemba Medika: Jakarta.
Sja’bani, Slamet, Syakib Bakri. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III.
Balai Penerbit FKUI: Jakarta.
0
|
OK..TRIMSSS
BalasHapusMasalah Kandung Kemih
BalasHapusKandung kemih terlalu aktif adalah Masalah kandung kemih yang menyebabkan dorongan tiba-tiba untuk buang air kecil. Dorongan mungkin sulit untuk berhenti, dan kandung kemih yang terlalu aktif dapat menyebabkan keluarnya urin tanpa disengaja (inkontinensia).
Gejala
• Penyakit
• Cedera
• Cacat bawaan pada otak, medula spinalis atau saraf yang menuju ke kandung kemih, saraf yang keluar dari kandung kemih maupun keduanya.
Suatu kandung kemih neurogenik bisa kurang aktif, dimana kandung kemih tidak mampu berkontraksi dan tidak mampu menjalankan pengosongan kandung kemih dengan baik; atau menjadi terlalu aktif (spastik) dan melakukan pengosongan berdasarkan refleks yang tak terkendali.
Kandung kemih yang kurang aktif biasanya terjadi akibat gangguan pada saraf lokal yang mempersarafi kandung kemih. Penyebab tersering adalah cacat bawaan pada medula spinalis (misalnya spina bifida atau mielomeningokel).
Suatu kandung kemih yang terlalu aktif biasanya terjadi akibat adanya gangguan pada pengendalian kandung kemih yang normal oleh medula spinalis dan otak. Penyebabnya adalah cedera atau suatu penyakit, misalnya sklerosis multipel pada medula spinalis yang juga menyebabkan kelumpuhan tungkai (paraplegia) atau kelumpuhan tungkai dan lengan (kuadripelegia). Cedera ini seringkali pada awalnya menyebabkan kandung kemih menjadi kaku selama beberapa hari, minggu atau bulan (fase syok). Selanjutnya kandung kemih menjadi overaktif dan melakukan pengosongan yang tak terkendali.
Penyebab
Gejalanya bervariasi berdasarkan apakah kandung kemih menjadi kurang aktif atau overaktif. Suatu kandung kemih yang kurang aktif biasanya tidak kosong dan meregang sampai menjadi sangat besar. Pembesaran ini biasanya tidak menimbulkan nyeri karena peregangan terjadi secara perlahan dan karena kandung kemih memiliki sedikit saraf atau tidak memiliki saraf lokal.
Pada beberapa kasus, kandung kemih tetap besar tetapi secara terus-menerus menyebabkan kebocoran sejumlah air kemih. Sering terjadi infeksi kandung kemih karena sisa air kemih di dalam kandung kemih memungkinkan pertumbuhan bakteri. Bisa terbentuk batu kandung kemih, terutama pada penderita yang mengalami infeksi kandung kemih menahun yang memerlukan bantuan kateter terus-menerus. Gejala dari infeksi kandung kemih bervariasi, tergantung kepada jumlah saraf yang masih berfungsi.
Jika anda terkena penyakit ini solusi terbaik adalah pengobatan secepatnya, obati segera penyakit anda dengan Kinik Apollo Spesialis Kelamin Jakarta yang sudah sejak tahun 2015 untuk mengobati Andrologi dan Ginekologi.
Apabila anda mempunyai akibat masalah kandung kemih diatas, sebaiknya anda segera untuk melakukan pengobatan sebelum penyakit anda derita akan semakin memperparah kondisi tubuh anda. Demikian sedikit penjelasan masalah kandung kemih, apabila infeksi tersebut menyerang anda, segera diobati, pengobatan Klinik Apollo spesialis kelamin yang sudah terbukti khasiatnya menyembuhkan pasien berbagai penyakit kelamin Andrologi dan Ginekologi.
Untuk informasi lebih lanjut dan silahkan konsultasi langsung dengan “ DOKTER ONLINE GRATIS “ 021-62303060 / 0813-1518-6262
buka link di bawah ini :
https://helodokter.com