Selasa, 21 Mei 2013

Batu Kandung Kemih



LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BATU KANDUNG KEMIH




DISUSUN OLEH :
PITRI ANDRIYANA KUSUMASTUTI 
10110145 / SEMESTER VI








PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
STIKes SATRIA BHAKTI NGANJUK
2013
  














BAB 1
Tinjauan Medis
A.    Definisi
Batu kandung kemih adalah kondisi terdapatnya batu didalam kandung kemih. (Muttaqin, )
          
B.     Etiologi
1.      Obstruksi kandung kemih
2.      Pembesaran prostat
3.      Stasis sisa urine yang tinggi
4.      Infeksi Saluran Kemih
5.      Penyakit Gout
C.    Patofisiologi
Kebanyakan kalkuli vesikalis terbentuk denovo dalam kandung kemih, tetapi beberapa awalnya mungkin telah terbentuk di dalam ginjal, kemudian menuju kandung kemih, dimana dengan adanya pengendapan tambahan akan menyebabkan tumbuhnya batu kristal. Pada pria tua, batu kandung kemih terdiri atas asam urat. Batu jenis ini merupakan batu yang paling mungkin terbentuk di kandung kemih. Bau yang terdiri atas kalsium oksalat biasanya awalnyanterbentuk di ginjal.
Jenis umum sebagian besar batu vesikalis pada orang dewasa terdiri atas asam urat (>50%). Pada kondisi yang lebih jarang, batu kandung kemih terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat, amonium urat, sistein, dan magnesium amonium fosfat (bila dengan infeksi).
Batu pada anak terutama atas asam urat amonium, kalsium oksalat, atau capuran tercemar asam urat dan oksalat  kalsium amonium dengan fosfat kalsium. Pemberian air tajin (air mendidih atau pada saat menanak beras) sebagai pengganti ASI memiliki fosfor rendah, akibatnya menyebabkan ekskresi amonia tinggi. Anak-anak juga biasanya memiliki asupan tinggi sayuran kaya oksalat (meningkatkan kristaluria oksalat) dan protein hewani (sitrat diet rendah).
Dengan terbentuknya batu di kandung kemih, masalah akan tergantung pada besarnya batu dalam menyumbat muara uretra. Berbagai manifestasi akan muncul sesuai derajat penyumbatan tersebut.
Ketika batu menghambat sa;uran urine, terjadilah obstruksi dan meningkatkan tekanan hidrostatik. Bila nyeri mendadak  secara akut dan disertai nyer tekan suprapubik, serta muncul mual muntah, maka klien sedang mengalami episode kolik renal. Diare, demam, dan perasaan tidak nyaman pada abdominal dapat terjadi. Gejala gastroitestinal ini terjad akibat reflek dan proksimitas anatomik ginjal ke lambung, pankreas, dan usus besar. Batu yang terjebak di kandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke kepala, abdomen, dan geital. Klien sering merasan ingin BAK, namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya mengandung darah aksi abrai batu, gejala ini disebabkan kolik ureter. Umumnya klien akan mengeluarkan batu yang berdiameter 0,5 sampai dengan 1cm secara spontan. Batu yang berdiameter lebih dari 1cm biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat dikeluarkan secara spontan dan saluran urine membaik atau lancar.
Berdasarkan tugas kimiawinya batu urin ada beberapa  jenis yaitu : batu kalsium okalat, batu kalsium fosfat, batu asam urat, batu struvit ( magnesium ammonium fosfat ) dan batu sistin.
1.    Batu Kalsium Oksalat
Merupakan jenis batu paling sering dijumpai : yaitu lebih kurang 75 – 85% dari seluruh batu urin. Batu ini lebih umum pada wanita, dan rata-rata terjadi pada usia decade ketiga. Kadang – kadang batu ini dijumpai dalam bentuk murni atau juga bisa dala bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium fosfat biasanya hidroxy apatite.Batu kalsium ini terdiri dari 2 tipe yaitu monohidrat dan dihidrat.Batu kalsium dihidrat biasanya pecah dengan mudah dengan lithotripsy ( suatu teknik non invasive dengan menggunakan gelombang kejut yang difokuskan pada batu untuk menghancurkan batu menjadi fragmen –fragmen) . sedangkan batu monohidrat adalah salah satu diantara jenis batu yang sukar dijadikan fragmen-fragmen.
2.    Batu Struvit :
Sekitar 10-15% dari total, terdiri dari magnesium ammonium fosfat ( batu struvit) dan kalsium fosfat. Batu ini terjadi sekunder terhadap infeksi saluran kemih yang disebabkan bakteri pemecah urea. batu dapat tumbuh menjadi lebih besar membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal. Batu dapat tumbuh menjadi lebih besar membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal. Dikatakan bahwa batu staghorn dan struit mungkin berhubungan erat dengan destruksi yang cepat dari ginjal hal ini mungkin karena proteus merupakan bakteri urease yang poten.
3.    Batu asam urat :
Lebih kurang 5-10% dari seluruh batu saluran kemih dan batu ini tidak mengandung kalsium dalam bentuk murni sehingga tak terlihat dengan sinar X ( radiolusen ) tapi mungkin bisa dilihat dengan USG atau dengan Intra Venous Pyelografy (IPV). Batu asam urat ini biasanya berukuran kecil, tapi kadang-kadang dapat cukup besar untuk membentuk batu staghorn, dan biasanya relatif lebih mudah keluar karena rapuh dan sukar larut dalam urin yang asam. Batu asam urat ini terjadi terutama pada wanita. Separoh dari penderita batu asam urat menderita gout ; dan batu ini biasanya bersifat family apakah dengan atau tanpa gout. Dalam urin Kristal asam urat berwarna merah orange. Asam urat anhirat menghasilkan Kristal-kristal kecil yang terlihat amorphous dengan mikroskop cahaya. Dan Kristal ini tak bisa dibedakan dengan Kristal apatit. Batu jenis dihidrat cenderung membentuk Kristal seperti tetesan air mata.
4.    Batu Sistin : (1-2%)
Lebih kurang 1-2% dari seluruh BSDK, Batu ini jarang dijumpai (tidak umum), berwarna kuning jeruk dan berkilau. Sedang Kristal sistin diurin tampak seperti plat segi enam sangat sukar larut dalam air. Bersifat radioopak karena mengandung sulfur.
5.    Batu Xantin
Amat jarang, bersifat herediter karena defisiensi xaintin oksidase.Namun bisa bersifat sekunder karena pemberian alupurinol yang berlebihan.
D.    Manifestasi Klinis
Umumnya batu berasal dari ginjal dan bergerak kearah distal, menciptakan derajat obstruksi yang bervariasi seperti yang terjadi pada daerah yang sempit seperti ureteropelvic junction dan ureterovesical junction. Lokasi dan kualitas dari nyeri berhubungan dengan posisi dari batu dalam saluran kemih. Keluhan khas dari batu urin bagian atas ialah adanya kolik ginjal disamping rasa tidak enak dipinggang ataupun adanya gejala -gejala infeksi saluran kemih bagian baik atas maupun bawah.
Ada 2 madam tipe nyeri yang berasal dari ginjal, yaitu nyeri kolik ginjal dan nyeri ginjal bukan kolik. Kolik ginjal biasanya disebabkan oleh peregangan urinary collecting system (sistem pelviokalises), sedangkan nyeri ginjal bukan kolik disebabkan distensi dari kapsul ginjal. Gejala nyeri ini mungkin timbul bersamaan sehingga sukar membedakan secara klinik. Namun yang jelas obstruksi saluran kemih adalah mekanisme utama yang bertanggung jawab untuk terjadinya kolik ginjal. Nyeri pada kolik ginjal ini bersifat konstan, sedang pada kolik bilier dan intestinal datangnya bergelombang. Nyeri kolik ginjal akut dan berat dapat membangun penderita yang sedang tidur. Mekanisme local seperti inflamasi, edema, hiperperistaltis, iritasi mukosa berperan dalam menimbulkan nyeri pada pasien batu ginjal.
Selain nyeri, gejala lain yang mungkin timbul sebagai berikut :
1.      Hematuri : Pasien sering mengeluh hematuria atau urin berwarna seperti teh Namun lebih kurang 10-15% penderita batu urin tidak menderita hematuria. Urinalisa yang komplet membantu diagnosis batu urin dengan adanya hematuria, kristaluria, dan kelainan Ph urin.
2.      Infeksi : Biasanya dengan gejala-gejala menggigil, demam, nyeri pinggang, nausea serta muntah dan disuria. Secara umum infeksi pada batu struvit (batu infeksi) berhubungan dengan infeksi dari Proteus sp, Pseudomonas sp, Klebsiella sp. dan jarang dengan E.coli. Batu kalsium fosfat adalah variasi kedua dari batu infeksi.
3.      Demam : Hubungan batu urin dengan demam adalah merupakan kedaruratan medik relatif. Tanda-tanda klinik sepsis adalah bervariasi termasuk demam, takikardi, hipotensi dan vaodilatasi perifer. Demam akibat obstruksi saluran kemih memerlukan dekompresi segera.
4.      Mual dan muntah : Obstruksi saluran kemih bagian atas sering menimbulkan mual dan muntah.
E.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Laboratorium
Urin analisis, pemeriksaan urin analisis pada pasien batu kandung kemih dilakukan secara mikroskopis dan makroskopis. Pemeriksaan secara mikroskopis dilakukan untuk menilai jenis batu dengan menilai pH, konsistensi dan komposisi batu. Pemeriksaan makroskopis dilakukan untuk menilai warna dan kejernihan urin. Pada pasien dewasa dengan jenis batu asam urat, secara mikroskopis lazim didapatkan pH asam, sedangkan secara makroskopis didapatkan adanya hematuria dan piuria.
Hitung jumlah sel darah lengkap : pada pasien obstruksi dan infeksi akakn didapatkan sel darah putih (WBC) meningkat.
2.      USG
Ultrasonografi, menampilkan objek hyperechoic klasik dengan membayangi posterior, efektif dalam mengidentifikasi baik radiolusen dan batu radio-opak.
3.      Foto Polos Abdomen
Pemeriksaan standar untuk menilai adanya batu radio-opak.
4.      Intravena Pyelography (IVP)
Jika kecurugaan klinis tetap tinggi dan foto polos abdomen tidak mengungkapkan adaya batu, langkah berikutnya adalah cystography atau IVP.
5.      CT-Scan
CT-Scan biasanya diperoleh karena alasan lain (misalnya: sakit perut, masa panggul, abses dicurigai), tetapi mungkin menunjukkan batu kandung kemih ketika dilakukan tanpa kontras IVP.
6.      Sistoskopi
Sistoskopi digunakan untuk mengonfirmasi keberadaan batu kandung kemih dan rencana pengobatan. Prosedur ini memungkinkan untuk visualisasi batu, ukuran, dan posisi. Selain itu, pemerksaan uretra, prostat, dinding kandung kemih dan lubang saluran kandung kemih memumngkinkan untuk dilakukan identifikasi striktur, obstruksi prostat, divertikula kandung kemih dan tumor kandung kemih.
F.     Penatalaksanaan Medis
Pengobatan medis yang efektif berpotensi hanya untuk penghancuran batu asam urat. Kalium sistrat (Polycitra K, Urocit K) 60 mEq/d adalah pengobatan pilihan.
Intervensi bedah, saat ini terdapat tiga pedekatan bedah berbeda yang dilakukan untuk mengatasi batu kandung kemih, tidak seperti penatalaksanaan dengan batu uretra atau batu ginjang intervensi ESWL pada batu kandung kemih menunjukkan dampak terapi yang rendah, tetapi pada beberapa studi menunjukkan bahwa intervensi ESWL masih dipertimbangkan untuk pengobatan batu kandung kemih.
1.      Cystolitholapaxy Transurethal
Setelah alat sitoskopi masuk dan memvisualkan batu, sumber energi yang digunakan untuk menghancurkan batu menjadi serpihan fragmen yang kemudian secara mudah dikeluarkan dengan alat sitosopi. Sumber energi mekanik , ultrasonik, elektrohidrolik (spark induced pressure wave), lithotrite manual, dan leser. Dengan menggunakan jenis panjang gelombang cahaya tertentu (misalnya holmium), maka dapat menghancurkan batu.
2.      Cystolithopalaxy Suprapubik Perkutan
Rute perkutan memungkinkan penggunaan lebih pendek dan diameter yang lebih besar peralatan endoskopi (biasanya dengan lithotriper ultrasonik), yang memungkinkan fragmentasi cepat dan evakuasi batu.
Sering kali, pendekatan transurethral dan perkutan digabungkan untuk membantu stabilitasi batu dan untuk memfasilitasi irigasi puing-puing batu. Para penulis mendukung pendekatan dikombinasikan dengan penggunaanlithotripter ultrasonik atau lithoclast pneumatik. Holmium laser juga efektif, tetapi umumnya lebih lambat, bahkan dengan serat-mikron.
3.      Cystotomy Suprapubik Terbuka
Cystotomy suprapubik terbuka, digunakan untuk menghilangkan batu. Kelebihan cystolithotomy suprapubik termasuk kecepatan, penghapusan beberapa batu pada satu waktu penghapusan kalkuli terhadap mukosa kandung kemih dan kemampuan untuk menghilangkan batu besar yang terlalu keras atau padat. Untuk menghilangkan fragmen secepatnya dapat digunakan teknik transrethral atau perkutan. Kelemahan utama termasuk nyeri pascaoperasi, tinggal dirumah sakit lebih lama, dan waktu lebih lama untuk kateterisasi kandung kemih.




























BAB 2
Tinjauan Keperawatan
A.    Pengkajian
1.      Identitas
a.       Perbandingan laki-laki dan wanita adalah 2 sampai 3 :1
b.      Usia : Puncak insiden dari batu urin dengan gejala adalah pada decade ketiga dan keempat.
c.       Penelitian demografis menyebutkan pria kulit putih beresiko lebih tinggi daripada kulit hitam.
d.      Pekerjaan : Pekerja kasar dan petani lebih banyak bergerak dibandingkan dengan pegawai kantor, penduduk kota yang lebih banya duduk waktu bekerja, ternyata lebih sedikit menderita batu urin.
e.       Keadaan sosial ekonomi : Di negara maju/industri atau golongan social ekonomi yang tinggi lebih banyak makan protein, terutama protein hewani, juga karbohidrat dan gula, ini lebih sering menderita batu urin bagian atas. Sedangkan pada negara berkembang atau orang yang sering makan Vegetarik dan kurang protein hewani sering menderita batu urin bagian bawah.
f.       Tempat tinggal : Orang yang tinggal didaerah panas punya resiko tinggi menderita batu urin. Pada daerah didaerah tropik, dikamar mesin akan menyebabkan keringat banyak dan menguap cairan tubuh, mengurangi produksi urin sehingga memudahkan pembentukan batu urin.
2.      Riwayat Penyakit
a.       Keluhan Utama
Frekuensi berkemih yang meningkat, urine yang masih menetes setelah berkemih, merasa tidak puas setelah berkemih, penurunan kekuatan, dan ukuran pancaran urine, mengedan saat berkemih, tidak dapat berkemih sama sekali, nyeri saat berkemih, hematuria, nyeri pinggang.
b.      Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien biasanya mengeluh nyeri saat berkemih, tidak dapat berkemih sampai gangguan gastrointestinal seperti mual, muntah yang kemudian pasien dirujuk ke Rumah Sakit.

c.       Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu dikaji apakah sebelumnya pasien mederita penyakit gout, ataupun pernah mengalami tindakan operasi panggul sebelumnya, tertama bila ada bahan sintetis yang ditanamkan.
d.      Riwayat Penyakit Keluarga
Anggota keluarga penderita batu urin lebih banyak kemungkinan menderita penyakit yang sama dibanding dengan keluarga bukan penderita batu urin. Lebih kurang 30% sampai 40% penderita batu kalsiun oksalat mempunyai riwayat famili yang positif menderita batu. Apakah ini terlibat faktor keturunan atau pengaruh lingkungan yang sama belum diketahui.
3.      Pemeriksaan Fisik
a.       Keadaan Umum
Pasien biasanya terlihat lemah, kesadaran Composmentis, suhu meningkat, dan nadi juga meningkat.
b.      B1 (Breathing / Pernapasan)
Tidak ada gangguan dalam sistem pernapasan.
c.       B2 (Blood / Kardiovaskuler)
Frekuensi denyut nadi meningkat, akral hangat, CRT < 3 detik, perfusi perifer baik.
d.      B3 (Brain / Persarafan)
Terdapat keluhan nyeri saat Bak ataupun nyeri suprapubik.
e.       B4 (Bladder / Perkemihan)
Frekuensi berkemih yang meningkat, urine yang masih menetes setelah berkemih, merasa tidak puas setelah berkemih, sering berkemih pada malam hari, penurunan kekuatan, dan ukuran pancaran urine, mengedan saat berkemih, tidak dapat berkemih sama sekali, nyeri saat berkemih, hematuria.
f.       B5 (Bowel / Pencernaan)
Keluhan gastrointestinal seperti nafsu makan menurun, mual,muntah dan konstipasi.
g.      B6 (Bone / Muskuloskeletal)
Pasien mengalami kelemahan fisik.

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri akut b.d peningkatan frekuensi kontraksi uretral, trauma jaringan.
2.      Gangguan eliminasi urin b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, obstrukai mekanik dan peradangan.
3.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah, anorexia.
4.      Resiko tinggi infeksi b.d port de entree luka pascabedah.
C.    Rencana Tindakan Kepewatan



























No.
Diagnosa
Tujuan
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri akut b.d peningkatan frekuensi kontraksi uretral, trauma jaringan

Dalam waktu 3 jam setelah diberikan tindakan keperawatan pasien mengatakan nyerinya berkurang.
a.    Secara subyektif pernyataan nyeri berkurang atau teradaptasi
b.    Skala nyeri 2
c.    TTV dalam batas normal dan pasien terlihat tenang.
1.    Observasi karakteristik nyeri mulai dari penyebab, lokasi, skala dan waktu. (PQRST)
2.    Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontraidikasi
3.     Berikan kompres hangat pada area nyeri.
4.    Ajarkan tehnik relaksasi distraksi seperti membaca koran.buku, aktivitas sesuai hobi, menonton tv, mendengarkan radio, dll
5.    Lakukan kolaborasi pemberian analgesik.
1.    Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan/ perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi dan keefiktifan intervensi
2.    membantu pasien berkemih dan mengeluarkan batu.
3.    Efek dilatasi dinding kandung kemih memberikan respon spasme otot menurun sehingga nyeri berkurang.
4.    Pengalihan perhatian akan mengurangi nyeri yang dirasakan.
5.    Analgesik akan memblok lintasan nyeri sehingga nyeri berkurang.
2.
Gangguan eliminasi urine b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, obstrukai mekanik dan peradangan.

Setelah diakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam pola eliminasi urine pasien normal.
TTV dalam batas normal, tidak ada keluhan dalam melakukan BAK, produksi urine 500cc/jam, tidak ada distensi kandung kemih, tidak terjadi hematuria, urine tidak keruh.
1.    Observasi pola berkemih pasien dan produksi urine setiap jam
2.    Observasi input dan output cairan pasien.
3.    Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih.
4.    Anjurkan untuk BAK setiap 3-4jam.
5.    Anjurkan untuk minum minimal 2000cc/hari.
6.    Kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian antimikroba.
1.    Untuk mengetahui fungsi ginjal.
2.    Untuk mengetahui kerja fungsi saluran perkemihan pasien.
3.    Menilai adanya stasis urine di kandung kemih.
4.    Membantu mempertahankan kerja ginjal.
5.    Pengedapan urine di kandung kemih akan meyebabkan semakin besarnya batu.
6.    Antimikroba akan memperlambat terbentuknya batu kandung kemih karena mikroba.
 3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia , muntah dan gangguan pencernaan.

Dalam waktu 3 x 24 jam setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.
Menunjukkan peningkatan nafsu makan dan menunjukkan peningkatan BB, pasien tidak merasa mual muntah, pasien tidak terlihat lemas dan pucat, mengalami peningkatan BB.
Lab :
Protein : (N : 6,1-8,2 gr), Albumin (N : 3,8-5,0 gr), gula darah PP (100-120 mg/dl) dalam batas normal.
1.    Observasi status nutrien pasien, turgor kulit, BB, riwayat mual/muntah dan intregitas mukosa.
2.    Pertahankan kebersihan mulut.
3.    Berikan makanan selagi hangat.
4.    Kolaborasi dengan ahli gizi dengan memberikan diet makanan rendah kalsium.
1.    Memvalidasi dan menetapkan derajat masalah untuk menetapkan pilihan intervensi yang tepat.
2.    Akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah bau dan rasa tak sedap yang akan menurunkan nafsu makan.
3.    Makanan hangat akan meningkatkan nafsu makan pasien dan dapat meningkatkan intake nutrisi yang adekuat.
4.    Diet rendah kalsium akan mengurangi terbentuknya batu kandung kemih.
4.
Resiko tinggi infeksi b.d port de entree luka pascabedah
Dalam waktu 5 x 24 jam tidak terjadi infeksi, terjadi perbaikan pada integritas jaringan lunak.
TTV dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, rubor, tumor, dan fungsio laesa), luka psaca operasi menunjukkan integritas yang baik.
1.    Observasi TTV pasien
2.    Observasi luka pasca operasi pasien.
3.    Lakukan tindakan rawat luka setiap hari.
4.    Berikan nutrisi tinggi protein.
5.    Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik.
1.    Mengetahui keadaan pasien adanya tanda-tanda infeksi seperti takikardi dan peningkatan suhu tubuh.
2.    Memantau kondisi luka agar tidak terjadi infeksi.
3.    Perawatan luka sebaiknya tidak setiap hari untuk menurunkan kontak tindakan dengan luka yang dalam kondisi sterils ehingga mencegah kontaminasi kuman ke luka bedah
4.    Nutrisi yang tercukupi dan tinggi protein akan mempercepat penyembuhan luka.
5.    Antibiotik meminimalkan luka dari mikroorganisme sehingga tidak terjadi infeksi.






D.    Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah mendapat intervensi keperawatan adalah sebagai berikut :
1.      Penurunan skala nyeri
2.      Pola BAK optimal
3.      Tidak terjadi infeksi pada luka pascabedah
4.      Asupan nutrisi terpenuhi

























Daftar Pustaka
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta: EGC.
Dr. Bahdarsyam. 2011. Spektrum Bakteriologik Pada Berbagai Jenis Batu Saluran Kemih Bagian Atas. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30750/4/Chapter%20II.pdf. Diunggah pada 14 Maret 2012.
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Salemba Medika: Jakarta.
Sja’bani, Slamet, Syakib Bakri. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Balai Penerbit FKUI: Jakarta.


























0